Sesampainya di rumah kepala dusun, Dokter memberi si anak uang Rupiah. Terlihat si anak bingung dengan uang yang diberikan oleh Dokter itu. Lalu ada seorang wanita yang melihatnya dan si Wanita menggantinya dengan uang Ringgit. Dalam hati sang Dokter,”kok mereka tidak tahu Rupiah? Padahal ini Indonesia.”. Lalu wanita itu berkata dalam bahasa Melayu Kalimantan,”disini Indonesia, tapi disini mereka pakai ringgit Malaysia. Karena kebanyakan mereka bedagang nak Malaysia, mereka jual beli pakai ringgit.”
Hari demi hari dilewati sang Dokter dan bekerja sepenuh hati melayani masyarakat perkampungan. Dan pada suatu waktu dia mampir ke sekolah dimana anak anak berwajah ceria dari kampung itu bersekolah dan menuntut ilmu. Lalu, sang Dokter mencoba berprofesi ganda, yaitu Dokter dan seorang Guru.
Hingga pada suatu waktu, sang Dokter bertanya,”Hayoo, siapa yang hafal lagu Indonesia Raya?”. Salah satu dari mereka bertanya balik dalam bahasa Melayu Kalimantan,”Apa itu Dokter? Saye tak pernah dengar lagu itu.”. Akhirnya, Dokter mengajari mereka tentang nasionalisme dan patriotisme, mengajari mereka semua tentang Indonesia.
Dan pada suatu malam Dokter itu menangis, memikirkan tentang mereka yang hidup di perbatasan, mereka hampir tidak mengenal jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Di masa hidupnya dia hanya ingin memuliakan generasi generasi penerus Pancasila.
Besoknya, saat malam tiba ada seorang anak memanggil manggil Dokter itu. Ternyata, anak kecil itu adalah salah satu murid di sekolah. Dokter menanyainya,”ada apa?”. Si anak menjelaskan bahwa kakeknya sedang sakit. Di cek-lah kakeknya oleh Dokter dan sang Dokter menjelaskan bahwa kakeknya harus dibawa ke Rumah Sakit.
Setelah di musyawarahkan, masyarakat kampung menggalang dana untuk membawa si kakek ke Rumah Sakit yang begitu jauhnya berada di perkotaan. Dokter, si anak dan seorang wanita ikut mengantar si kakek. Tak disangka bahwa kakek si anak adalah seorang veteran perang. Di tengah tengah perjalanan, perahu motor yang dinaiki si kakek, Dokter, si anak, dan wanita yang pertama ditemui Dokter, mengalami kerusakan pada baling baling pendorongnya, yang memaksa mereka berhenti.
Saat itu pula, si kakek memanggil si anak dan menitip pesan kepada si anak. Si kakek berkata,”Nak, Indonesia itu tanah surga, apapun yang terjadi pada dirimu, jangan sampai kehilangan cintamu pada negeri ini! Kami bangsa Indonesia”. Selang beberapa saat, si kakek itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan mengamanatkan pesan kepada si anak untuk tetap menjaga rasa nasionalisme dalam dirinya.
Cerita ini selalu menjadi inspirasiku untuk menjadi seorang pengabdi bangsa, terutama menjadi Dokter. Mengabdi pada Negara, Nusa, dan Bangsa adalah tujuanku. Apapun yang terjadi pada diriku ataupun Negeri ini, aku akan tetap mencintainya sampai akhir hayatku.
Referensi dari mimpi seorang anak muda bernama Ilham Prahardani, dan sebuah film yang telah menginspirasinya untuk lebih menggapai mimpinya.
Sumber : inspirasi.co

0 Response to "Merah Putih Di Perbatasan"
Post a Comment